Pagi ku hambar ...
Begini saja dan tak ada rasanya
Kecuali hanya menikmati seberkas sinar mentari
Dan segulung awan putih yang tertata rapi di langit
Atau kicauan burung yang hinggap di atap jendela ku
Rasanya flat begitu saja
Seperti atap-atap yang tersusun rapi dalam bangunan-bangunan yang begini saja
Ini adalah suasana pagi di perumahan di sebuah kota
Dan aku adalah salah satu sukma yang terjebak di dalamnya
Sesekali ku dengar para orangtua menjajakan perniagaannya
Pagi sekali atau setengah siang
Aku mengintip di jendela kamar ku
Orang-orang yang sudah pagi sekali mencari rezeki
Atau sesekali aku dengar riuh ramai orang-orang yang berlalu lalang
Atau sesekali suara anjing yang menggonggong nyaring di depan rumah ku
Awan yang putih kemudian berubah warnanya
Menjadi gelap dan matahari pergi meninggalkanku
Aku semakin merasakan dingin mengusap kulitku
Semakin hambar dan aku enggan lepas dari ruang ku
Begini saja, biasa saja seperti kebanyakan anak rumahan lainnya
Sesekali aku igin melayangkan tubuhku berada di puncak-puncak gunung
Yang setiap waktu aku lihat tinggi menjulang
Yang warnanya biru
Atau ku hamparkan tikar di teras rumah dan bertamasya dengan keluarga
Menikmati secangkir kopi atau teh hangat dengan satu potongan kue
Pagi ku hambar, ya begini saja ...
Sesekali hanya berlisan-lisan dengan tetangga sebelah
Tertawa kecil dan tak berkepanjangan
Sesekali saja
Penatnya udara kota
Aku ingin pulang ...
In The Afternoon
Sabtu, 05 April 2014
Jika Tuhan Izinkan
Ini puisi ...
Seandainya engkau menyimaknya
Maka akan aku sampaikan
Betapa tak kuasanya aku
Aku harus berbuat apa?
Menyapa mu saja aku tak mampu
Bagaimana bisa aku mengenalmu?
Menyentuhmu dalam tenang
Telah hampir berulang kali
Aku ini digoyahkan rasa ku, tentang yang demikian itu
Teramat menyiksaku
Haruskah aku begini saja, diam terbelenggu seribu bahasa?
Ataukah ku utarakan saja?
Betapa aku ini adalah orang yang mengagumi mu dalam diam
Dalam sandiwara bisu ku
Dan aku selalu tertatih barangkali ada sepercik takdir yang berubah
Barangkali suatu hari nanti hati mu, mata mu dan telinga mu terbuka
Untuk melihatku dalam penantian
Aku akan tersenyum dengan indah saat kau datang menghampiri
Dan menyambutku dalam kehangatan
Aku adalah segelincir pena yang akan menemani mu dalam lembaran
Jika Tuhan ijinkan
Aku dan kamu adalah pena-pena yang berisi tinta
Lalu bersama-sama menulis cerita kita di dalamnya
Seandainya engkau menyimaknya
Maka akan aku sampaikan
Betapa tak kuasanya aku
Aku harus berbuat apa?
Menyapa mu saja aku tak mampu
Bagaimana bisa aku mengenalmu?
Menyentuhmu dalam tenang
Telah hampir berulang kali
Aku ini digoyahkan rasa ku, tentang yang demikian itu
Teramat menyiksaku
Haruskah aku begini saja, diam terbelenggu seribu bahasa?
Ataukah ku utarakan saja?
Betapa aku ini adalah orang yang mengagumi mu dalam diam
Dalam sandiwara bisu ku
Dan aku selalu tertatih barangkali ada sepercik takdir yang berubah
Barangkali suatu hari nanti hati mu, mata mu dan telinga mu terbuka
Untuk melihatku dalam penantian
Aku akan tersenyum dengan indah saat kau datang menghampiri
Dan menyambutku dalam kehangatan
Aku adalah segelincir pena yang akan menemani mu dalam lembaran
Jika Tuhan ijinkan
Aku dan kamu adalah pena-pena yang berisi tinta
Lalu bersama-sama menulis cerita kita di dalamnya
Selasa, 28 Januari 2014
Pada Siapa Lagi?
Dengan siapa lagi aku harus berkata-kata
Dengan siapa lagi aku harus menjelaskan
Mereka sudah tertanam dalam otaknya
Perasaan untuk membenci ku
Mereka termakan lisan yang curang
Lisan yang dusta untuk menjatuhkan ku
Sementara aku lisan yang tak mampu berkata apa-apa
Yang mereka dengar bukan fakta
Yang mereka dengar bukan suatu kebenaran
Tapi aku tak mampu mencegah
Sebegitu kuatkah diri ku?
Berjalan tertatih
Seakan-akan mampu menepis dakwaan
Mengabaikan pedang yang menusuk
Menancap tepat di hati ku
Enyahlah ...
Sekeras inikah hidup?
Sesakit itukah?
Menepilah kejahatan, kecurangan, kemunafikan
Aku bukan orang yang tepat untuk kau lukai
Aku bukan orang yang tepat untuk kau curangi
Sampai engkau menyadari
Betapa rapuhnya aku
Akankah tetap lisan mu berdusta tentang aku?
Biarlah alam yang menentukan kebenaran sementara ini
Biarlah engkau berpuas-puas
Hingga tiba nanti roda waktu mempersilahkan aku bahagia
Dengan siapa lagi aku harus menjelaskan
Mereka sudah tertanam dalam otaknya
Perasaan untuk membenci ku
Mereka termakan lisan yang curang
Lisan yang dusta untuk menjatuhkan ku
Sementara aku lisan yang tak mampu berkata apa-apa
Yang mereka dengar bukan fakta
Yang mereka dengar bukan suatu kebenaran
Tapi aku tak mampu mencegah
Sebegitu kuatkah diri ku?
Berjalan tertatih
Seakan-akan mampu menepis dakwaan
Mengabaikan pedang yang menusuk
Menancap tepat di hati ku
Enyahlah ...
Sekeras inikah hidup?
Sesakit itukah?
Menepilah kejahatan, kecurangan, kemunafikan
Aku bukan orang yang tepat untuk kau lukai
Aku bukan orang yang tepat untuk kau curangi
Sampai engkau menyadari
Betapa rapuhnya aku
Akankah tetap lisan mu berdusta tentang aku?
Biarlah alam yang menentukan kebenaran sementara ini
Biarlah engkau berpuas-puas
Hingga tiba nanti roda waktu mempersilahkan aku bahagia
"Aku Tak Apa." Endusmu
Aku hampir mengecewakan mu
Tapi kamu masih tetap berusaha tersenyum
Bersandiwara dan menari lewat mimik mu
"Aku tak apa," endusmu
Padahal dalam hati mu bergejolak amarah
Kekecewaan, jika kamu lebih jauh peduli
Wanita apakah aku?
Yang di hadapan mu ini
Aku meminta mu di sisi
Tapi aku malah pergi
Dengan senyum berseri aku masih bisa tertatih berjalan
Sementara kamu menghembus-hembus nafas
Dan mengelus dada
"Aku tak apa," endusmu
Aku yang semakin tak mengerti
Sebegitu tak pedulikah kamu?
Aku ada dan tiada pun tiada jadi kisah untuk mu
Padahal aku ingin apa-apa
Di balik tak apa mu...
Ternyata aku semakin tak mengerti dengan sandiwara mu
Jika aku mampu bergeming
Aku akan memaki diri ku di hadapan mu
Sebegitu payahkah aku untuk meyakinkan mu
"Aku tak apa," endusmu.
Lalu aku semakin tak mengerti
Tapi kamu masih tetap berusaha tersenyum
Bersandiwara dan menari lewat mimik mu
"Aku tak apa," endusmu
Padahal dalam hati mu bergejolak amarah
Kekecewaan, jika kamu lebih jauh peduli
Wanita apakah aku?
Yang di hadapan mu ini
Aku meminta mu di sisi
Tapi aku malah pergi
Dengan senyum berseri aku masih bisa tertatih berjalan
Sementara kamu menghembus-hembus nafas
Dan mengelus dada
"Aku tak apa," endusmu
Aku yang semakin tak mengerti
Sebegitu tak pedulikah kamu?
Aku ada dan tiada pun tiada jadi kisah untuk mu
Padahal aku ingin apa-apa
Di balik tak apa mu...
Ternyata aku semakin tak mengerti dengan sandiwara mu
Jika aku mampu bergeming
Aku akan memaki diri ku di hadapan mu
Sebegitu payahkah aku untuk meyakinkan mu
"Aku tak apa," endusmu.
Lalu aku semakin tak mengerti
Untuk Sahabat
Kita pernah melukis cerita di atas kertas
Tawa dan canda kita lalui bersama
Kita merangkai mimpi bersama-sama
Kita lepas kegelisahan dan cambuk kesedihan
Hanya dengan mu aku mampu tersenyum
Sahabat...
Jika ruang dan waktu memisahkan
Aku masih menyimpan seribu kisah dengan mu
Bila nanti kita bertemu lagi
Aku akan berdongeng tentang kita
Yang tak akan pernah habis dimakan waktu
Sahabat...
Walau saat ini pelukan hanya sebuah angan
Aku yakin kerinduan akan bermakna
Tiada engkau tiada cerita
Padahal tawa ku, duka ku akan menarik
Menjadi topik diskusi kita di sudut kelas
Ditemani snack ringan dan basa-basi garing
Aku selalu suka menit-menit itu sambil menunggu pergantian jam
Kita tak pernah habis cerita
Gelak dan tawa selalu menemani hari
Cerita kita akan menjadi warisan untuk anak-anak kita
Nanti hingga tiba waktunya
Kita akan bernostalgia dan mengenang masa-masa itu
Sahabat, salam rindu dari sahabatmu!
Tawa dan canda kita lalui bersama
Kita merangkai mimpi bersama-sama
Kita lepas kegelisahan dan cambuk kesedihan
Hanya dengan mu aku mampu tersenyum
Sahabat...
Jika ruang dan waktu memisahkan
Aku masih menyimpan seribu kisah dengan mu
Bila nanti kita bertemu lagi
Aku akan berdongeng tentang kita
Yang tak akan pernah habis dimakan waktu
Sahabat...
Walau saat ini pelukan hanya sebuah angan
Aku yakin kerinduan akan bermakna
Tiada engkau tiada cerita
Padahal tawa ku, duka ku akan menarik
Menjadi topik diskusi kita di sudut kelas
Ditemani snack ringan dan basa-basi garing
Aku selalu suka menit-menit itu sambil menunggu pergantian jam
Kita tak pernah habis cerita
Gelak dan tawa selalu menemani hari
Cerita kita akan menjadi warisan untuk anak-anak kita
Nanti hingga tiba waktunya
Kita akan bernostalgia dan mengenang masa-masa itu
Sahabat, salam rindu dari sahabatmu!
Lukisan Senja di Mata Mu
Dalam mata mu ku lihat kristal
Bola mata yang indah tak membosankan
Segelintir lensa kecokelatan berlukiskan senja
Teduh, menentramkan
Tiada keraguan selain diri yang payah untuk melihat keindahan itu
Jauh lebih dalam jauh lebih tenang
Garis-garis lensa menggurat menyihir
Memaku, menghantarkan radar ketidakberdayaan saat menatapmu
Mengabaikan seribu tanya
Dan polah laku yang sia-sia
Tiada berlisan-lisan
Sederet keindahan terus mengalir mengirim radar kesejukkan
Betapa lebih dari cukup untuk mengisyaratkan
Aku jatuh hati pada mu
Dan matamu berbisik "akupun"
Akhirnya aku tak mampu melepaskan
Keindahan bola mata mu yang tak membosankan
Kamu mau bawa aku kemana
Tak perlu berlisan
Biarkan kristal di mata mu saja yang bergeming
Dan kesejukan senja di mata mu menenangkan
Membawa ku menjadi apa yang kamu mau
Bola mata yang indah tak membosankan
Segelintir lensa kecokelatan berlukiskan senja
Teduh, menentramkan
Tiada keraguan selain diri yang payah untuk melihat keindahan itu
Jauh lebih dalam jauh lebih tenang
Garis-garis lensa menggurat menyihir
Memaku, menghantarkan radar ketidakberdayaan saat menatapmu
Mengabaikan seribu tanya
Dan polah laku yang sia-sia
Tiada berlisan-lisan
Sederet keindahan terus mengalir mengirim radar kesejukkan
Betapa lebih dari cukup untuk mengisyaratkan
Aku jatuh hati pada mu
Dan matamu berbisik "akupun"
Akhirnya aku tak mampu melepaskan
Keindahan bola mata mu yang tak membosankan
Kamu mau bawa aku kemana
Tak perlu berlisan
Biarkan kristal di mata mu saja yang bergeming
Dan kesejukan senja di mata mu menenangkan
Membawa ku menjadi apa yang kamu mau
Langganan:
Postingan (Atom)