Senja melukis banyak cerita ... Menyejukan setiap sukma di penghujung hari ... Melukis senja adalah hal terindah ... Cipta damai dalam hati

Selasa, 28 Januari 2014

Pada Siapa Lagi?

Dengan siapa lagi aku harus berkata-kata
Dengan siapa lagi aku harus menjelaskan
Mereka sudah tertanam dalam otaknya
Perasaan untuk membenci ku
Mereka termakan lisan yang curang
Lisan yang dusta untuk menjatuhkan ku
Sementara aku lisan yang tak mampu berkata apa-apa
Yang mereka dengar bukan fakta
Yang mereka dengar bukan suatu kebenaran
Tapi aku tak mampu mencegah
Sebegitu kuatkah diri ku?
Berjalan tertatih
Seakan-akan mampu menepis dakwaan
Mengabaikan pedang yang menusuk
Menancap tepat di hati ku
Enyahlah ...
Sekeras inikah hidup?
Sesakit itukah?
Menepilah kejahatan, kecurangan, kemunafikan
Aku bukan orang yang tepat untuk kau lukai
Aku bukan orang yang tepat untuk kau curangi
Sampai engkau menyadari
Betapa rapuhnya aku
Akankah tetap lisan mu berdusta tentang aku?
Biarlah alam yang menentukan kebenaran sementara ini
Biarlah engkau berpuas-puas
Hingga tiba nanti roda waktu mempersilahkan aku bahagia

"Aku Tak Apa." Endusmu

Aku hampir mengecewakan mu
Tapi kamu masih tetap berusaha tersenyum
Bersandiwara dan menari lewat mimik mu
"Aku tak apa," endusmu
Padahal dalam hati mu bergejolak amarah
Kekecewaan, jika kamu lebih jauh peduli
Wanita apakah aku?
Yang di hadapan mu ini
Aku meminta mu di sisi
Tapi aku malah pergi
Dengan senyum berseri aku masih bisa tertatih berjalan
Sementara kamu menghembus-hembus nafas
Dan mengelus dada
"Aku tak apa," endusmu
Aku yang semakin tak mengerti
Sebegitu tak pedulikah kamu?
Aku ada dan tiada pun tiada jadi kisah untuk mu
Padahal aku ingin apa-apa
Di balik tak apa mu...
Ternyata aku semakin tak mengerti dengan sandiwara mu
Jika aku mampu bergeming
Aku akan memaki diri ku di hadapan mu
Sebegitu payahkah aku untuk meyakinkan mu
"Aku tak apa," endusmu.
Lalu aku semakin tak mengerti

Untuk Sahabat

Kita pernah melukis cerita di atas kertas
Tawa dan canda kita lalui bersama
Kita merangkai mimpi bersama-sama
Kita lepas kegelisahan dan cambuk kesedihan
Hanya dengan mu aku mampu tersenyum
Sahabat...
Jika ruang dan waktu memisahkan
Aku masih menyimpan seribu kisah dengan mu
Bila nanti kita bertemu lagi
Aku akan berdongeng tentang kita
Yang tak akan pernah habis dimakan waktu
Sahabat...
Walau saat ini pelukan hanya sebuah angan
Aku yakin kerinduan akan bermakna
Tiada engkau tiada cerita
Padahal tawa ku, duka ku akan menarik
Menjadi topik diskusi kita di sudut kelas
Ditemani snack ringan dan basa-basi garing
Aku selalu suka menit-menit itu sambil menunggu pergantian jam
Kita tak pernah habis cerita 
Gelak dan tawa selalu menemani hari
Cerita kita akan menjadi warisan untuk anak-anak kita
Nanti hingga tiba waktunya
Kita akan bernostalgia dan mengenang masa-masa itu
Sahabat, salam rindu dari sahabatmu!

Lukisan Senja di Mata Mu

Dalam mata mu ku lihat kristal
Bola mata yang indah tak membosankan
Segelintir lensa kecokelatan berlukiskan senja
Teduh, menentramkan
Tiada keraguan selain diri yang payah untuk melihat keindahan itu
Jauh lebih dalam jauh lebih tenang
Garis-garis lensa menggurat menyihir
Memaku, menghantarkan radar ketidakberdayaan saat menatapmu
Mengabaikan seribu tanya
Dan polah laku yang sia-sia
Tiada berlisan-lisan
Sederet keindahan terus mengalir mengirim radar kesejukkan
Betapa lebih dari cukup untuk mengisyaratkan
Aku jatuh hati pada mu
Dan matamu berbisik "akupun"
Akhirnya aku tak mampu melepaskan
Keindahan bola mata mu yang tak membosankan
Kamu mau bawa aku kemana
Tak perlu berlisan
Biarkan kristal di mata mu saja yang bergeming
Dan kesejukan senja di mata mu menenangkan
Membawa ku menjadi apa yang kamu mau